Friday, 15 November 2013

BLACK ODYSSEY PART 1: Surabaya, Stranger in the Strange Land

Kali ini kontingen riset adalah saya, Yuka (peneliti subkultur) dan Ardiansyah (animator 3D). Sedangkan Haris (editor video) berhalangan dengan jadwal kerja dan kuliahnya. Perjalanan kali ini adalah semacam recce ke titik-titik Javanese Black Metal yang ada di Jawa Timur.

Setelah mencocokkan jadwal dengan para nara sumber Javanese Black Metal di Sidoarjo dan Kediri, maka pertemuan pertama adalah dengan Dian, bassist band Sengkologeni asal Surabaya. Sekitar dua minggu sebelumnya saya telah bertemu dengan para Real Militia, sebuah tongkrongan di pinggir rel tepat di belakang Mall Royal, dimana berkumpulnya aktivis metal Surabaya dan Madura seperti Sengkologeni dan Rajam.

Dari perbincangan dengan Dian tentang latar belakang pengetahuan tentang ke-Jawa-an, Dian mengaku memperolehnya dari keluarga dalam hal ini ayah dan kakeknya yang sangat mengerti dengan budaya dan spiritual Jawa. Dari tutur cerita mereka Dian mempunyai kesadaran untuk merekamnya dalam bentuk Javanese Black Metal. Dengan kendaraannya band Sengkologeni, Dian cs. Adalah kelompok yang dalam jalur terus berkembang dan mempelajari tentang Jawa.


Selayaknya metropolitan, Surabaya adalah kota besar dimana ide-ide dan usaha penggalian sejaran dari budaya di kalangan muda kalah bersaing dengan upaya mengejar lifestyle modern. Manusia telah menjadi orang asing di tanah mereka sendiri. Kota-an. Sebenarnya yang dilakukan oleh Dian dan Sengkologeni adalah perpaduan yang harmonis antara budaya dan musik modern. Walaupun disebut underground, menjadi Metal itu adalah modern, atau dalam istilah ngaco saya: dark hipster. Dan… ber-Metal dengan budaya lokal…saya sebut itu KEREN!


Jenggala Records

Selagi Yuka berbincang dengan Dian, kami kedatangan tamu dari scene Sidoarjo. Bima, bassist Thirsty Blood dan pemilik dari Jenggala Records. Jenggala Records hadir sebagai sosok industri di dunia kegelapan bawah tanah scene metal Sidoarjo dan sekitarnya. Sebuah langkah yang sangat saya kagumi.

Selama ini Bimo telah memproduksi sejumlah album seperti Nglayat, Danyang Kuburan, Sekar Mayat, Banaspati, Kantong Simayit, dan album split Mapez (Indonesia)/ Antaboga (Malaysia). Jumlah copy tiap album hanya sekitar 50 keping dangan ‘royalty’ ke pihak band berupa 5-10 buah cd. Album fisik berupa CD-R yang di-burn dengan drive cd komputer, diberi label manual dan untuk menjaga agar tidak luntur permukaan label disemprot dengan cat pelapis bening. Distribusi Jenggala Records mencakup distro di kota-kota lain dan lewat sosial media. Sangat sulit mencari koleksi lengkap dari label ini karena sebagian besar album telah habis dibeli.

Dian (Sengkologeni) & Bima (Jenggala Records)
Bimo memang dihadang masalah dana produksi akan tetapi label Jenggala Records telah memberikan budaya membeli dan mengkoleksi album fisik di kalangan metalhead. Bimo juga telah berhubungan dengan label dan band-band Eropa seperti Jerman dan Perancis yang nanti akan ditawarkan untuk album split dengan band-band Indonesia.

Selain label-label besar underground yang ada di Jawa Timur, Jenggala Records adalah sebuah contoh perputaran bisnis dalam sebuah scene. Dimana mereka menjadi lingkaran swadaya aktif antara band-metalhead-artworker-label-distro. Sebuah hal yang kontras dengan dunia saya, dunia film indie dan dokumenter, sebagian besar pelaku sibuk berkeluh-kesah dan sibuk galau dengan distribusi film yang akhirnya berakhir di layar festival dan youtube.

Perjalana selanjutnya: GEMPOL, FADE TO BLACK


Link online store Jenggala Records:
email:

Post a Comment