Friday, 15 November 2013

BLACK ODYSSEY Part 6: Rock In Solo 2013 Hari-2

Pagi hari di lapangan Kota Barat saya berkeliling di luar venue, merekam suasana para metalhead dari luar kota Solo yang telah bersiap. Sebelumnya Haris editor The Anarcho Brothers yang berhalangan hadir minta dibelikan topi atau kaos black metal local. Di sekitar lapangan lapak-lapak kaos dan aksesoris metal banyak bertebaran. Saya akhirnya membeli kaos Sengkologeni dan Innalillahi. Entah itu kaos original atau bajakan.

Di dalam venue saya bertemu dengan Pak Bambang, metalhead setia Rock In Solo sejak konser Dying Fetus pada 2010. Pak Bambang sehari-harinya adalah juru parkir di sekitar Solo Baru dan menjadi salah satu tokoh dalam proyek dokumenter RIS 2013 oleh Bani Nasution.

Hari ke-dua berjalan seperti biasa, merekam dan merekam. Saya berkesempatan mengambil gambar di backstage ketika Djiwo bersiap sebagai penampil pertama. Sibuk dengan pernak-pernik dan perlengkapan sebuah band Javanese Black Metal, Djiwo tampak serius jarang menyapa orang-orang sekitarnya. Gede juga banyak mengambil foto-foto proses persiapan Djiwo. Memang itulah Djiwo, backstage adalah semacam tempat transformasi dari seorang yang sehari-harinya sangat akademik dan lucu menjadi sosok monster di atas panggung.

Djiwo membuka hari ke-dua RIS 2013 dengan tiga lagu, diantaranya Cakra Birawa. Sebuah lagu dari lirik mantra tantra kalacakra versi Jawa yang mempunyai arti sangat dalam. Saya dan Yuka berniat membuat sebuah peluncuran online dengan tulisan dan klip dari lagu ini. Walau penampilan Djiwo hanya disaksikan dari dekat oleh segelintir metalhead, tapi aura black metal sangat kuat di atas panggung. Hari ke-dua dibuka oleh band Javanese Black Metal sebagai tuan rumah untuk menyambut Polish Black Metal, Behemoth.

Rock In Solo memang menyediakan tempat untuk band-band dari berbagai genre rock, terlihat dari penampilan The Working Class Symphony yang membawakan folk, punk dan sedikit country rock. Ada juga The Corals, band Bekasi yang beraroma stoner, rock n’roll, dan Navicula dari Bali yang mantap dengan grunge.

Hari ke-dua ini saya lebih banyak berkeliling dan bertemu kawan-kawan baru di lingkaran musik ini. Saya bertemu lagi dengan Doni bersama kontingen Kediri dan kawan-kawan Real Militia Surabay. Sambil menyempatkan diri menyantap nasi kotak dari booth milik band black metal Solo, Bandoso. Nasi Paradox, demikian nama booth yang diambil dari album mereka Semesta Paradoks. Tampak Nonot sang bassist menjadi penjaga booth dan kasir, sementara frontman Pintus sibuk menggoreng tahu tempe.

Deadly Weapon, Ilemauzar (Singapura) dan Inlander, menghentak walaupun ditengah hujan. Hari ke-dua terlihat jumlah penonton jauh lebih banyak, kontingen luar kota yang ingin menonton Behemoth banyak yang baru berdatangan. Psychonaut (Australia) menutup siang dengan cadasnya thrash metal.

Shift malam makin beringas dengan ((Auman)) yang berlirik kritis, disusul Outright dan Navicula. Noxa berhasil membuat metalhead menjadi bagian dari tontonan yang menarik. Sayangnya ditengah konser Noxa, manajemen dari Behemoth meminta untuk memajukan waktu perform mereka. Noxa akhirnya hanya memainkan lima lagu namun  cukup menguras energi metalhead malam itu. Tarik napas dulu untuk Behemoth…

Negosiasi kawan-kawan The Think Organizer dengan Behemoth berbuah akses bagi saya dan Anggula Brintik untuk mengambil gambar di dalam barikade dan dari atas panggung. Gede sebagai fotografer panggung senior juga mendapatkan akses yang sama. Behemoth juga meminta hasil rekaman dari kami untuk menjadi dokumentasi mereka. Sama halnya ketika saya merekam Death Angel 2011, ketika mereka tengah mengerjakan thrashumentary karya Tommy Jones, sebagian footage kami menjadi bagian dari dokumenter tersebut.

Selagi menunggu Behemoth keluar dari balik panggung, saya memperhatikah beberapa buah hio dengan aroma cendana dipasang pada speaker monitor, sementara backdrop bergambar demit Baphomet tampak arogan menatap penonton. Nergal muncul dengan jubah berkalung belasan ceker ayam, entah kenapa pikiran saya langsung nyambung ke gudeg Margoyudan. Dari balik lcd kamera saya hanya bisa berkomentar bahwa Behemoth sungguh menyajikan sebuah pertunjukan black metal yang total. Detil wajah keempat orang Polandia ini selalu serius dan mengerikan sejak awal hingga akhir. Tidak ada basa-basi di jedah lagu. Yeah, itulah Behemoth, band black metal terbesar saat ini.

Saat seluruh acara selesai, saya merasa terhormat menjadi bagian dari konser ini. Saya menjadi bagian dari segala kesulitan dan kerja keras yang dialami kawan-kawan Solo dalam menyelenggarakan Rock In Solo. Masalah apakah konser ini untung atau rugi tidak lagi penting. Yang jelas harus ada orang-orang yang menyelamatkan dan menjaga scene ini, seperti kawan-kawan dai Solo ini. Semoga tahun depan masih ada tempat untuk saya membantu mereka. Hanya Baphomet yang tahu…

Sampai jumpa di Rock In Solo 2014 \m/

Link Highlight Rock In Solo 2013:


Post a Comment