Friday, 15 November 2013

BLACK ODYSSEY part 7: The Ritual

Satu lagi rencana penting di kota Solo adalah meliput upacara kirab Satu Suro. Tim riset berbagi lokasi yaitu Yuka berangkat ke Yogyakarta dan saya tetap di Solo. Saya berkoordinasi dengan Djiwo yang juga sebagai abdi di kalangan keraton Solo. Dari informasi Djiwo kirab tahun ini belum pasti diadakan karena situasi konflik di keluarga Keraton Solo. Djiwo sendiri tidak mengetahui pasti apakan dirinya akan dipanggil untuk bertugas di kirab tersebut.


Malam Satu Suro, pemberitaan mengabarkan bahwa kirab jadi dilaksanakan tetapi dengan absennya PB XIII. Djiwo datang ke kantor The Think dan kami berbincang dengan Gede, Rio dan kawan-kawan The Think. Topik menarik adalah Djiwo yang tergabung dalam komunitas pisau, sebuah forum yang membahas senjata tajam secara mendalam. Djiwo tetap membawa budaya keris ke komunitas yang didominasi dengan pembahasan teknik dan metalurgi barat dalam membuat pisau. Keris selalu dikenal sebagai benda bertuah, keramat yang akhirnya hanya menonjolkan sisi klenik ke masyarakat dan melupakan sisi teknik pembuatan secara detil. Sisi teknis itu yang dicoba dijelaskan oleh Djiwo.

Dekat tengah malam kami berjalan kaki menuju gerbang keraton Surakarta, titik yang ideal untuk merekam prosesi kirab. Sepanjang jalan Djiwo menjadi pemandu dan menceritakan banyak hal tentang prosesi tersebut. Tidak berapa lama kirab pun dimulai, saya akhirnya mendapatkan gambar yang berhubungan dengan dokumenter Javanese Black Metal. Footage yang terkumpul lumayan untuk mencicil produksi sambil mencari dana.

Perjalanan Surabaya-Sidoarjo-Kediri-Solo, saya menemukan hal yang menarik dari pertemuan dengan pelaku Javanese Black Metal. Lokasi dimana mereka tinggal menjadi cirri tersendiri untuk mencari Jawa. Di Surabaya metropolitan, Jawa yang tersisa adalah kisah dan tuturan orang tua. Di Sidoarjo dan Kediri sebagai turunan dari kerajaan yang besar, cara pencarian Jawa adalah menggalinya secara spiritual dan menjelajahi situs yang banyak tersebar. Solo sebagai sebuah kerajaan, masih mempunyai literatur yang cukup akan informasi Jawa.


Para musisi ini adalah generasi muda yang mengunjungi, mempelajari, merawat dan menjaga situs-situs peninggalan budaya. Mereka bukan orang yang didanai oleh sebuah badan arkeologi bahkan bukan oleh Departemen Pendidikan Nasional bahkan Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ini adalah sebuah kesadaran local dengan misi global: JAVANESE METAL.


Post a Comment