Friday, 15 November 2013

BLACK ODYSSEY Part 5: Rock In Solo 2013 Hari-1

Ini adalah tahun ke tiga saya membantu Rock In Solo. Pada 2011 dan 2012 saya dan The Anarcho Brothers merekam event ini dan menghasilkan DVD Rockumentary (2011) dan Concert Report (2012). Kali ini yang bertindak sebagai perekam RIS 2013 adalah Bani Nasution, film maker dari LiarLiar Films di Solo. Bani berniat membuat dokumenter dari sudut pandang metalhead dan sialnya saya disuruh menjadi salah satu metalhead itu. Huh!

Terus terang bisa dibilang saya sendiri belum pernah menikmati secara tuntas semua konser RIS ini, karena setiap datang selalu sebagai pekerja. RIS yang ke tujuh ini pun saya akhirnya membantu kawan-kawan media center untuk membuat semacam highlight yang akan di-update sepanjang event berlangsung.

Seperti kebanyakan konser, penampilan awal seperti Bankeray, Infectious Arteries, Nadi, Sisi Selatan, Kapital penonton di depan panggung belum banyak. KM09 dan DJIN menghantam panggung dengan brutal dan mulai memancing metalhead dipinggir lapangan untuk bergabung ke depan.

Setelah break Magrib, orkes simponi gotik Kedjawen666 dari Bogor, membuka malam di Lapangan Kota Barat. Ada banyak pertanyaan dikepala tentang band yang ini. Dengan nama “Kedjawen” dilengkapi dengan “666”, apakah itu suatu perkawinan spiritual Jawa dengan kegelapan jahat dalam ranah bible? Mengapa sang vokalis menggunakan patch bendera Norwegia? Memang hal yang kontras dengan riset kami tentang “trve” Javanese Black Metal.

Straightout dan Jihad sungguh membuat metalhead berjihad di moshpit. Rumput mulai terkikis dan debu terbang diantara para penikmat kebisingan. Lalu ada Down For Life kelompok ‘ketoprak’ metal lokal Solo dengan Adjie sang vokalis yang selalu melucu di sela lagu. Sebelumnya saya sempat meminta agar dibuatkan wall of death di penampilan mereka nanti. Untuk mendapat gambar yang lebih bagus saya naik ke lantai dua FOH sedangkan Anggula Brintik rekan saya memposisikan diri disekitar panggung. Ternyata Adjie mengabulkan permintaan saya, penonton yang padat diminta membelah menjadi dua dan kemudian sekali lagi aksi wall of death RIS 2013 menjadi koleksi saya.

Mendekati akhir lagu, dari lantai dua FOH terlihat kerumunan yang tidak biasa di sisi kanan. Seseorang penting telah datang tadinya saya mengira yang datang adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, hingga terdengar gemuruh metalhead: “Jokowi… Jokowi… Jokowi…”. Secara mendadak Gubernur Metal DKI itu datang di tengah kerumunan brutal tersebut. Untuk mendapatkan gambar yang bagus saya langsung turun dan menuju backstage, tempat biasanya para pejabat dijamu. Namun Jokowi malah berhenti di tengah kerumunan. Pak Jos, seorang legenda di event musik tanah air itu panik dan malah menyuruh saya membuka jalan menerobos ribuan metalhead untuk meminta Jokowi ke FOH. Siap Laksanakan!

Jokowi selamat masuk ke dalam FOH dan saya pun kehilangan kesempatan mengambil gambar lebih dekat karena tubuh ini seperti remuk bagai disiksa Gorgoroth. Jokowi menonton selama satu lagu Down For Life, dan penonton di sekitar FOH menonton Jokowi. Lalu lintas twitpic, instagram, path pasti menjadi sibuk dengan posting foto Jokowi. Setelah Down For Life selesai, Jokowi pulang dan tetap dikerumuni metalhead, saya mencari kesempatan untuk memberikan oleh-oleh khas Solo yaitu DVD Rockumentary RIS 2011 dan 2012 semoga ditonton beliau di sela-sela blusukan Jakarta.

Hour Of Penance sebagai band utama di hari pertama tampil maksimal dengan technical death metalnya, diselingi oleh solo drum dari James Payne. Kebisingan Hour Of Penance menutup malam minggu yang brutal di Solo. Para metalhead pulang dengan tertib dan mempersiapkan tenaga untuk hari ke-dua, Minggu gelap dengan misa malam oleh Behemoth.

Link:

Post a Comment