Sunday, 5 June 2016

DJIWO merilis video ARDUM

Pada tanggal 6 Juni 2016 Garda Metal Hitam Nvsantara, DJIWO merilis video musik ARDUM.
Video ARDUM adalah hasil kerjasama dengan The Anarcho Brothers yang selama ini menjadi sekongkol dari band DJIWO.

Seperti pesan dari lirik ARDUM yang bermakna tarian jiwa, video ini menampilkan gerakan tangan Ratriarkha yang diambil dari beberapa gerakan MUDRA yang dikonversikan ke dalam sisi black metal.

Video ARDUM bisa dinikmati di link ini: https://goo.gl/fMhntA

Berikut plakat peluncuran....


Sunday, 10 April 2016

THE AMBASSADOR OF KWAN: WAHYU

Apa pula itu Ambassador of Kwan? Hanya itu yang terlintas ketika membuat judul blog acakadut ini. Kwan adalah respek, kesungguhan dan keteguhan. Kata-kata yang menyimpulkan seorang kawan dari Bayuwangi ini.

Saya berkenalan dengan Wahyu ketika mengikuti tour Superglad ke Jawa Tengah, Wahyu dengan motor bututnya jauh-jauh dari Solo membawa kaset untuk ditandatangani. Saya sempat mewawancarai dan kemudian menjadi salah satu bagian scene yang cukup penting dari dokumenter Superglad - Rock Together. Wahyu adalah tipe fans yang akan mengejar idolanya hingga ke backstage dan selalu berhasil menyambani Slank, Nidji, Gigi dan rif/.

Yang menarik dari Wahyu adalah aksi-aksi sosialnya, dari membantu dan memperjuangkan hak Jamkesmas hingga ke Kementerian Kesehatan demi seorang bocah berjantung bolong, hingga melepas belenggu korban pemasungan. 

Penyuluhan kesehatan dari desa ke desa
Sebagai Pembuat Dokumenter
Wahyu adalah mahasiswa keesehatan di sebuah PT di Solo. Pada sebuah kesempatan saya dibuat tercengang dengan 2 film dokumenternya tentang HIV/AIDS dan Puskesmas. Keduanya dibuat dengan menggunakan kamera saku Kodak C195.

Dokumenter penyuluhan HIV/AIDS dibuat seiring tugasnya ke daerah lokalisasi dan kemudian tinggal bersama seorang PSK yang rentan tertular HIV. Wawancara tampak teratur dan beberapa candid ke dalam lokalisasi.

Film kedua adalah tentang Puskesmas yang bertahan melayani ke daerah terpencil walau keterbatasan dana dari dinas kesehatan. Dokumenter berbentuk promo ini memaparkan dengan jelas tergantungnya warga dengan keberadaan Puskesmas sementara fasilitas dan obat-obatan yang ada sangat terbatas. Akibat diputarnya dokumenter ini ke Dinas Kesehatan, Puskesmas ini mendapat hibah dana sebesar 50 juta rupiah. 

Ada satu buah lagu Gigi berjudul "Cintailah Mereka" yang digunakan dalam dokumenter tentang AIDS. Wahyu berharap suatu saat ingin bertemu Armand Maulana dan meminta ijin menggunakan lagu tersebut.

Tenaga Kesehatan Partikelir
Di saat Jawa Tengah mencanangkan "Nol Pemasungan", ternyata Wahyu mendapatkan penderita gangguan jiwa yang masih dipasung. Penderita berumur 40an tahun dan dipasung terpisah dari rumah orang tuanya. Perawatan yang dilakukan Wahyu akhirnya berhasil melepas rantai pasungan dan hingga saat ini telah mempunyai kegiatan bercocok tanam.

Wahyu bersama penderita HIV/AIDS, mendampingi hingga akhir
Terakhir saya mengontaknya 
ternyata Wahyu dan kawan-kawan tengah mendirikan sebuah rumah baca yang menyediakan berbagai informasi, berlokasi di daerah Pasar Kliwon Solo.

Masih banyak kegiatan partikelir yang telah dilakukan Wahyu, cukup panjang untuk diceritakan di sini, biarlah itu porsinya bang Kick Andy. Di mata saya Wahyu adalah fans musik rock di sisi satunya, yang masih ber-New Rock ria ketika bertugas praktek di rumah sakit dan seorang superhero kesehatan di sisi yang lainnya.

Berhasil melepas pasung dengan pendekatan kemanusiaan
Saya selalu yakin seseorang manusia tidak akan menjadi baik ketika diberikan kekuatan super, saya selalu percaya dan mengidolakan para villain karena mereka nyata. Namun manusia seperti Wahyu Sukmana membuat manusia seperti saya percaya bahwa ada harapan tinggal di negeri bedebah ini. Orang-orang baik masih ada dan mereka nyata, mereka yang saya sebut The Ambassador Of Kwan.





Silakan berkawan dengan Wahyu:
https://www.facebook.com/profile.php?id=100010238527903&fref=ts

Rumah Baca Sangkrah
http://rumahbacasangkrah.com/

Sunday, 17 January 2016

FILM-FILM THE ANARCHO BROTHERS DI BUTTON IJO

Awal tahun 2016 ini The Anarcho Brothers bekerja sama dengan Button Ijo untuk mendistribusikan film-film mereka. Dokumenter Rock In Solo 2012 "The Return" (Kamerad Edmond& Haris Kartasumitra) dan dokumenter/eksperimental Djiwo's Pamurba Yatmaka Cakra Bhirawa (Kamerad Edmond) kini bisa diperoleh melalui produk unik USB Sinema prakarsa depot film Button Ijo.

The Anarcho Brothers memilih USB Sinema karena dianggap tepat untuk film mereka. Film dokumenter musik masih kurang peminatnya secara retail/individual dibanding produk musik itu sendiri, CD, kaset atau digital. USB Sinema memungkinkan sebuah film untuk ditonton melalui screening bersama, nonton bareng dimana komunitas musik berkumpul dan lebih jauhnya membuka sebuah diskusi, sehingga jangkauan pemirsa bisa semakin luas dan pembahasan film itu sendiri makin terbuka.

ROCK IN SOLO 2012 "THE RETURN"
Melihat konten film ini, "The Return" bisa dibilang adalah sebuah review panjang tentang event Rock In Solo 2012. Kamerad Edmond, Haris Kartasumitra dan Yuka Dian Narendra berkomentar tentang pandangan mereka terhadap event ini. Dokumenter ini berisi cuplikan peristiwa dibalik dan selama event ini digelar, dengan penampilan diantaranya Bandoso, Dreamer, Makam, Jasad, Belligerent Intent dan tentunya aksi Cannibal Corpse.

DJIWO'S PAMURBA YATMAKA CAKRA BHIRAWA
Video dokumenter/eksperimental intinya berisi narasi statement dari Shiva Ratriarkha sang vokalis band Nusantara Black Metal Djiwo tentang pemikirannya pada album Cakra Bhirawa. Berisi visual hitam-putih yang kental dengan aura magis-kelam dan di sisi lainnya menawarkan pencerahan spiritual.

Lebih jauh tentang USB Sinema:
http://buttonijo.com/pages/support-1

Bekasi, Januari 2016

Tuesday, 28 July 2015

PAMURBA YATMAKA CAKRA BHIRAWA


Tidak lama setelah Cakra Bhirawa dirilis awal 2014, Shiva Ratriarkha sang pelantun mantra membuat narasi yang menjelaskan maksud dari tiap lagu di album tersebut. Saya sendiri sangat terbantu dengan rekaman narasi ini, lagu Djiwo yang berisi pekik mistis dan riff hipnotis Fancy Burn kini makin bermakna.Maka saya memutuskan untuk merespon narasi ini dengan visual.

Seperti biasa sejak pembuatan video musik Cakra Bhirawa saya dan pihak band tidak pernah bertemu. Hanya terjadi diskusi panjang di jendela whatsapp dan seakan ada kinetis rupa yang menghubungkan ide. Pamurba Yatmaka dimulai dengan mendengar narasi sambil membongkar footage-footage dalam harddisk dan menyusunnya. Proses ini terasa seperti membentuk komposisi baru untuk sebuah album musik dibanding keadaan emosi dalam membuat film.
DJIWO: Fancy Burn & Shiva Ratriarkha.  photo by: I Gede Adhiputra

ADAM, artwork by: Usman Kalabintalu Blakk Art. photo by: I Gede Adhiputra

Pamurba Yatmaka adalah sebuah proses memaknai sebuah lagu dengan gambar-gambar yang sebagian besar tidak ada kaitannya dengan narasi. Pejelasan harfiah dimunculkan dengan karya-karya goresan jahat Usman Kalabintalu yang membuat artwork dari album ini. Narasi Usman tentang gambarnya menjadi pembuka tayang.

Diujung produksi Shiva memberikan mantra rajah kalacakra lengkap dengan gerakan yang semakin memperkuat posisi Djiwo sebagai band Nusantara Black Metal. Gerakan semacam ini juga dilakukan Shiva ketika rekaman vokal pada track Ardum yang berarti gerak/tarian. Mantra tersebut disematkan pada tiap segmen video dan secara ritual menjadi senjata penolak bala. Bagi orang yang mengerti bahasa Jawa ada beberap kalimat mantra yang terdengar menggelikan. Tetapi itulah mantra lengkap kalacakra yang ditemukan Shiva dari berbagai literatur kuno.

DJIWO monogram. design by Shiva Ratriarkha


Video ini diproduksi sebagai alternatif produk video-musik selain video klip, dokumenter biografi, video konser atau dokumentasi proses rekaman. Untuk black metal sebagai genre yang berideologi setidaknya butuh sebuah media untuk menerjemahkan misi yang kadang tidak cukup dengan menyimak lirik.

Kamerad Edmond
Cikini 73, 28 Juli 2015

links:
Djiwo @ tumblr  : http://fuckyeahdjiwo.tumblr.com/
Beli album Djiwo - Cakra Bhirawa :  https://itunes.apple.com/id/album/cakra-bhirawa/id944046151
Video musik Cakra Bhirawa :  https://www.youtube.com/watch?v=cpCvblDpNnY
Album @ Hitam Kelam Store :  http://hitamkelamstore.blogspot.com/2014/12/djiwo-cakra-bhirawa.html

Monday, 27 April 2015

METAL, PANTAI DAN KOTA MANADO - Catatan pulang kampung



Mercusuar di tengah kota manado.
Medio Mei 2015 saya dan beberapa kru The Anarcho Brothers mendapatkan peluang untuk ke Manado. Bagi saya merupakan perjalanan pulang kampung sedangkan bagi Haris (editor) dan Nanda (script) adalah perjalanan membuktikan urban legend tentang wanita-wanita cantik Manado.


SCENE IN PROGRESS
Ditengah kesibukan kami mencari sempatan bersua dengan gerombolan hitam kota, scene metal Manado, North Celebes Infantry Batallions. Sebuah kehormatan kami diundang untuk ngopi-ngopi bersama. Gelora metal di Manado menarik karena saya bisa melihat proses bertumbuhnya sebuah scene dengan akar kampus dan warung kopi. Band Durhaka adalah salah satu pelopor The Second Wave musik Metal di Manado. Sebelumnya scene metal gelombang pertama sekitar tahun 80an dengan nama-nama seperti Mekathana, Red Bifi, Justisia dan D'Bosco hingga awal 90an meredup.


Scene metal Manado dengan genre black metal yang menonjol adalah fenomena di sebuah kota dengan kadar sayap kanan yang tinggi. Diantara stereotipe anak muda Manado yang trendi dan wangi ditambah dengan tingkat religius masyarakat yang tinggi, gerombolan ini menjadi simbol penyadaran sosial bahwa setiap kota punya sisi gelap. Masyarakat Manado selalu merasa nyaman dengan kotanya hingga kerap melupakan masalah-masalah diantara mereka. Saya sendiri sangat berharap kepada scene ini untuk menjadi suara kritis bagi kota dan masyarakat. Saatnya Manado mempunyai suara lantang untuk menyadarkan bahwa banyak cacat sosial yang terabaikan seiring dengan ibadah minggu.




Ngopi-ngobrol dengan kawan-kawan NCIB berlangsung di sebuah warung kopi Kitawaya di seberang bioskop tua art deco yang sekarang kosong. Pemiliknya adalah tokoh rohani yang giat melakukan diskusi gospel di tempat itu. Momen paling menarik adalah disaat kami dengan khusyuk berbincang tentang black metal, kidung pujian dinyanyikan oleh para pemuda gereja di meja sebelah. 
Indahnya perbedaan.

PANTAI MANA PANTAI
Tidak kuasa dengan rengekan Haris dan Nanda akhirnya saya mengantar mereka ke pantai sepanjang Malalayang. Bertahun tidak menjenguk kampung, semuanya sudah berubah. Sepanjang garis pantai Manado sebagian besar telah menjadi milik pribadi dan kemudian direklamasi. Para pengusaha telah membuat resort reklamasi dengan impian menciptakan mini Dubai. Sulit mencari pantai terbuka untuk publik.


Disatu sisi pemerintah kota sedang giat-giat nya mencanangkan Manado kota Cerdas 2020. Mungkin pemkot Manado butuh sekolah lagi untuk menafsirkan kata Cerdas. Kota ini butuh public space dimana masyarakat berbagai kalangan bertemu, dan mulai menyingkirkan manusia partai dan menggantinya dengan profesional yang lebih mengerti tentang tata kota, kesenian dan budaya.
Habit primordial yang telah dirusak kolonial ratusan tahun telah membuat pola pikir masyarakat kota Manado menjadi pecandu kenyamanan. Nyaris mustahil melaksanakan sebuah produksi (film, misalnya) tanpa ngaret. Maka tidak jarang untuk membangun sebuah booth pameran tenaga tukang harus diimpor dari pulau seberang.


Pesan untuk Manado, 'kenyamanan' itu berbahaya.
Pesan untuk NCIB, jadilah 'ketidaknyamanan' untuk kota kami.


I YAYAT U SANTI \m/


Sario, 28 April 2015


Kamerad Edmond

Lahir dan bertumbuh di Manado, dewasa di tanah orang.

Friday, 13 March 2015

MAAF KALO SAYA BERTANYA MELULU - UNDERGROUND IN THE ABOVEGROUND



Sebagai pembuka, penulis menyatakan menolak segala tindakan dan pemikiran rasial, dan sikap menebar kebencian terhadap etnis tertentu harus dihentikan!

10 Maret 2015 publik underground dikejutkan dengan sebuah petisi yang menentang Ki Gendeng Pamungkas atas sikapnya yang rasial. Banyak masyarakat metal mendukung petisi tersebut dengan menandatangani ataupun hanya dengan komentar di sosial media.

Seperti yang “kita ketahui bersama” KGP bisa dibilang penyelenggara konser metal paling produktif di negara ini walaupun sebagian besar konser dilaksanakan hanya dalam lingkup kota Bogor.

Seperti yang “kita ketahui bersama” KGP mampu menghadirkan band-band kelas atas Indonesia dalam konsernya dengan mahar tontonan yang murah.

Seperti yang “kita ketahui bersama” dalam konser itulah atribut dan aura rasial-politik bertebaran baik di spanduk, orasi maupun tulisan bold di kaos kru panggung dan sekuriti. Sebuah pemandangan yang tidak nyaman ketika saya meliput di acara tersebut.

Kehebohan akhirnya berawal ketika seorang sahabat dari komunitas buku dan filsafat akhirnya mengetahui kondisi dunia underground di Bogor yang sebenarnya telah lama “kita ketahui bersama” tadi. Mungkin kawan itu shock dan akhirnya membawanya ke aboveground, jadilah petisi yang direspon oleh kawan-kawan underground/metal. Banyak yang mendukung petisi tapi ada pula yang mengambil sikap yang lain.

Bebarapa band garda depan kemudian mengambil sikap mundur dari konser yang diselenggarakan KGP yang juga menghadirkan yang mulia Gorgoroth dan Disavowed itu. Sebuah pernyataan yang sangat tepat melihat dari penggemar mereka yang besar. Setidaknya sikap band-band ini akan memberikan edukasi yang luas untuk menentang sikap rasialis.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa baru sekarang ini band-band mengambil sikap demikian, ketika ada petisi dan penolakan masal terhadap KGP. Padahal seperti “kita ketahui bersama” beberapa band tersebut sempat tampil di beberapa gig KGP.

Saya teringat komentar dari seorang kawan dari aboveground: “Selama masih dibawah tanah, tenang aja masih aman…” Di dalam underground/metal memang terdapat banyak hal-hal unik yang jika dibawa ke aboveground akan menjadi sesuatu yang menghebohkan yang juga berimbas ke scene underground itu sendiri. Underground punya habit sendiri untuk menghalalkan banyak hal sebelum berbalik menentang ketika itu dibawa kepermukaan. Sebagai contoh, berapa banyak artwork yang menampilkan salib terbalik? Bukankah itu adalah sebuah bentuk penistaan sebuah agama? Sah-sah aja, selama itu ada di bawah tanah.

Sebuah jaringan metal multimedia yang cukup terkenal pernah memberikan jawaban untuk pertanyaan saya: “Penikmat pintar hanya mengambil sarinya, bukan intinya…” terdengar agak janggal ketika melihat musisi yang bersusah payah menciptakan sebuah karya metal dengan konsep yang matang berharap pendengarnya bisa mengerti baik sari maupun inti dari lagu mereka. Mungkin tidak perlu dimengerti, selama berada di underground sah-sah saja.

Setahun lalu seorang lapak-ers di Wonosobo ditangkap polisi karena menjual kaos metal dengan tulisan ‘Tem**k Sejuta Umat”. Tulisan yang sangat biasa ditemukan di kerumunan metalhead apalagi di scene porngrind. Seperti biasa ketika berita ini muncul di media aboveground kemudian ramai-ramai mencaci. Padahal sekali lagi itu adalah hal yang telah lama “kita ketahui bersama”.

Okesip, kembali lagi ke………..Bogor.

Setelah gelombang kritik dan penolakan terhadap KGP berikut gigsnya, KGP tetap ngeyel menyatakan kalau acaranya tetap berjalan. Sekarang kita bicara tentang metalhead yang mengharapkan Gorgoroth maupun Disavowed, konser yang bisa ditukar dengan receh 25.000 atau ‘free sale’ 15.000 (saat membuat ketikan ini di web resmi Gorgoroth masih terdaftar jadwal konser di Bogor). Apakah metalhead yang hadir akan disebut pendukung rasisme? Ataukah mereka adalah metalhead pinggiran metropolitan yang akhirnya mempunyai kesempatan mungkin sekali seumur hidupnya menyaksikan yang maha besar Gorgoroth dengan tarif dibawah 6 digit.

Untuk melawan kampanye rasial KGP dalam scene underground memang tidak cukup dengan petisi. Kita bisa melihat KGP dan kelompoknya menghidupkan scene underground lengkap dengan simbol 666 dan emblem bintang Daud, bahkan di daerah kekuasaan politik sayap kanan.

Sepertinya perlu adanya sebuah event tandingan dengan frekwensi gigs, band line-up, venue dan harga yang bersaing. Scene Bogor membutuhkan orang-orang yang berkampanye menolak rasisme dalam dunia musik, yang mampu memberikan tontonan berkualitas dan bersih dari segala kepentingan.



Metal connects with people, regardless of their cultural, political or religious backgrounds. And these people aren't just absorbing metal from the west; they're transforming it, creating a new outlet they can't find in their traditional cultures, a voice to express their discontent with the chaos and uncertainty that surrounds them in their rapidly changing societies. And for metalheads all across the globe, metal is more than music, more than an identity. Metal is freedom, and together, we are now a GLOBAL TRIBE.    
  

–Sam Dunn, Global Metal (2008)

Tuesday, 1 July 2014

Jokowi In The Mosh Pit

Pemilihan presiden 2014 telah menjadi virus yang menyebalkan untuk orang-orang seperti saya. Perang kampanye hitam di sosial media menjadi teror ketika kita membuka halaman facebook maupun twitter. Padahal saya dan kawan-kawan sempat ditawari menjadi agensi bayangan salah satu calon presiden yang akhirnya memilih berkoalisi dengan kubu yang lebih bonafid. Ga jadi deh liburan ke eropa...okesip.

Di ujung hiruk-pikuk kampanye dua calon presiden yang hebat-hebat ini, saya merasa perlu berbagi pengalaman pribadi saya dengan salah satu calon presiden. Yap...Pak Joko Widodo.

ROCK IN SOLO V 2011
Kembali ke bulan September 2011 di kota Solo. Saya kebetulan dalam proses pembuatan film dokumenter tentang konser musik terbesar di Jawa Tengah, Rock In Solo (RIS) dipuncak kesibukan panitianya, The Think Organizer. Ketua panitia Stephanus Adjie (vokalis Down For Life) berencana ingin bertemu Pemerintah Daerah untuk meminta keringanan pajak tontonan karena RIS telah dianggap sebagai tontonan masyarakat dan memberikan pemasukan untuk Kota Solo.


9 September 2011. Berangkatlah saya, Adjie dan Jalu Baskoro ke Balai Kota Surakarta. Selagi menunggu antrian, kami bertemu dengan Pak Rudy, wakil walikota yang juga penggemar musik rock sekedar untuk berbincang. Dari situ kami menuju ruang tunggu Walikota, tampak ada sekitar 10 orang berpakaian seragam Partai Demokrat sedang menunggu. Kami yang datang dengan tampilan rapih seadanya hanya menunggu di loby.

Sekitar 15 menit kemudian Jokowi keluar ruangan dengan ajudannya dan menyapa tamu-tamu dari partai tersebut. "Wah, maaf ya saya istirahat makan siang dulu..." kira-kira begitu kata Jokowi. Melihat Jokowi keluar kami pun memunculkan diri dari loby menuju ruang tunggu. "Lho...ini anak-anak metal ngapain di sini?" tanya Jokowi. Adjie langsung mengutarakan maksud kami terkait konser RIS. Tanpa diduga Jokowi langsung mengajak kami masuk ke ruangan Walikota "Ayo, 15 menit ya". Dan para tamu partai itu melihat kami dengan wajah kesal. Perbincangan tentang konser RIS berjalan baik dan Jokowi berjanji untuk hadir. Dan RIS pun mendapatkan potongan pajak tontonan.


17 September 2011. Malam itu Burgerkill tengah menghantam panggung RIS dengan beringas. Pada lagu ke-4 dari balik panggung mobil dinas Walikota bersandar. Jokowi turun dan menuju area depan panggung, bersalaman dengan metalhead dari balik barikade. Jokowi menggunakan jaket merah dengan kaos Lamb Of God. Dari wawancara Jokowi berharap bisa mendatangkan Metallica! Harapan itu memang terdengar bagai celetukan mimpi saja dan menjadi nyata 25 Agustus 2013 di GBK ketika Jokowi menjadi gubernur DKI.

Saat memutuskan untuk terus menonton band-band utama seperti Burgerkill, Oathen, Kataklysm dan Death Angel, petugas Polisi Pamong Praja menawarkan kursi untuk Jokowi. Jokowi menolak "Nonton metal kok duduk..." dan beliau terus berdiri dan sesekali terlihat hentakan kepala mengiringi hingga Death Angel tampil.


ROCK IN SOLO VII 2013
2 November 2013. Sekali lagi saya bertugas menjadi tukang rekam RIS. Sekitar 3000 metalhead memenuhi depan panggung. "Wall of Death"* yang brutal terjadi ketika band tuan rumah Down For Life menghentak panggung. Tiba-tiba dari menara FOH terlihat kegaduhan di tengah ribuan metalhead itu. Sayup-sayup terdengar Jokowi...Jokowi...Jokowi...

Saya langsung turun dan berlari menuju belakang panggung dengan harapan Jokowi akan di ajak ke sana dan saya bisa mendapatkan gambar bagus. Setiba di pintu pagar pembatas area panggung saya bertemu Pak George, seorang veteran di dunia konser yang telah berpengalaman diantaranya menyelenggarakan konser-konser Log Zelebhour. Pak George yang bertindak sebagai kepala sekuriti terkejut ketika mengetahui Jokowi ada ditengah-tengah 3000 metalhead. Khawatir Gubernur DKI yang kerempeng itu akan tergencet metalhead, Pak George yang dikenal galak itu malah menyuruh saya untuk menyelamatkan Jokowi ke FOH. Lah...saya kan mau soting...

Akhirnya saya berhasil menerobos kerumunan metalhead yang berebut bersalaman dengan Jokowi. Sementara dari atas panggung Stephanus Adjie berteriak ke penonton "Woi...artisnya di sini nih...!" Jokowi akhirnya berhasil masuk ke dalam FOH dan terus menonton dari sana.

Ceritanya...sebelum masuk ke area konser, Jokowi menyuruh ajudannya yang berkaos metal untuk membeli tiket dan baru kemudia mereka masuk ke dalam. Panitia yang bertugas dipintu masuk tidak mengira bakal merobek tiket dari tangan seorang Jokowi. 

Setelah penampilan band technical death metal asal Italia, Hour Of Penance, Jokowi memutuskan untuk pulang karena besoknya harus kembali lagi berdinas di Jakarta. Saya berkesempatan bertemu beliau dan memberikan oleh-oleh dokumenter DVD ROCK IN SOLO. Saya meminta beliau untuk kiranya bisa menonton di sela-sela blusukan di ibu kota.

Kampanye PilPres 2014 adalah mosh pit yang brutal untuk Jokowi, melebihi benturan 'wall of death' Down For Life. Habit mosh pit itu telah membuat Jokowi siap menghadapi sikutan kampanye hitam dengan cara metalhead: tetap tegar walau keseleo, benjol kadang berdarah-darah. 



*wall of death adalah atraksi penonton metal yang membelah menjadi dua kubu dan kemudian saling bertabrakan di tengah. Kira-kira mirip adegan perang di film Braveheart ketika Mel Gibson berteriak "FREEDOOOOOMMMM...."

\m/

Tuesday, 24 June 2014

Di mana anda pada 21 Mei 1998?

Ketika ngopi di kawasan Taman Ismail Marzuki sayup-sayup terdengar sebuah suara lantang yang dengan yakin dan sombong mengaku bahwa dialah orang pertama yang berhasil meloloskan mahasiswa ke dalam gedung DPR sewaktu demo reformasi Mei 1998. Hebat sekali.

Di sosial media tidak sedikit orang-orang yang menceritakan kronologi demonstrasi besar yang berhasil meruntuhkan Orde Baru yang busuk dan melahirkan rezim baru bernama Reformasi. Di musim pemilihan presiden 2014 ini nostalgia demonstrasi ditengah kerusuhan semarak muncul kembali, sudah dipastikan karena tokoh trendi di masa itu muncul menjadi salah satu kandidat presiden. Intinya semua orang yang di masa itu masih menjadi mahasiswa merasa menjadi pahlawan. Tersirat minta diakui. Hebat sekali.

Mei 1998 saya sendiri berhasil diakui sebagai alumni ditengah krisis moneter dan memanasnya politik. Saya pun bergabung dengan dengan sekitar dua lusin alumni Instirut Kesenian Jakarta yang merencanakan sebuah….konser musik. WTF… diantara krisis kita malah hura-hura. Sebagai alumni paling muda tugas saya adalah mengurus humas/publikasi bersama Saut Irianto.


Adalah prakarsa Djodi Sumantri (Super Bedjo) bersama Rusdi Harsono, Ignas Dwiadi, Joko Nugroho, Fahmi Alatas. Panitia telah terbentuk dan mulai menggagas konser musik berbayar tersebut. Lokasi ditetapkan di Plaza Teater Luwes IKJ pada tanggal 21 Mei 1998. Beberapa band terkemuka di scene IKJ masuk dalam daftar diantaranya Naif, Dik Doang, Plastik dan Rumah Sakit. Kami pun mengajak band besar seperti Slank dan No Limits. Rencana telah matang dan mulailah mencari dana dan sponsor.
Keadaan kemudian berbalik. 13 Mei 1998 kerusuhan menghantam Jakarta. Untuk sebagian masyarakat IKJ peristiwa ini mengingatkan pada kerusuhan 27 Juli 1996 dimana kawasan TIM kebagian diserbu sejumlah tentara tanpa identitas dengan tatapan mata kosong. Saat itu sejumlah mahasiswa dan alumni yang tidak sempat melarikan diri menjadi korban pukulan rotan berduri.

Beberapa panitia termasuk Djody memutuskan untuk membubarkan rencana konser. Pihak Slank sebagai band utama juga membatalkan kehadiran mereka. Walah…
Beberapa panitia yang tersisa memutuskan untuk terus menjadikan event. Ignas, Joko, Fahmi, Saut, Rusdi dan saya tetap berupaya menjadikan acara ini. Tujuan konser hura-hura kemudian menjadi sebuah konser untuk respon terhadap situasi Indonesia. Kami dibantu juga oleh beberapa kawan yang merasa dengan mengadakan event ini mereka bisa ikut dalam proses sosial-politik yang sedang genting. Sianne, Sabu Donald, Aline Jusria dan Budi Wicaksono bergabung.

Aline Jusria dan kawan-kawan yang masih menjadi mahasiswa, disela-sela kegiatan demo mereka membantu mencari dana berkeliling kampus dengan membawa gallon air mineral.
Kabar baik diterima dari manajemen No Limits yang saat itu akan merilis album mereka. No Limits akan tetap main di acara kami tanpa dibayar dan bahkan mereka menyumbang uang sebesar Rp. 500.000 untuk panitia.

Aktor Epy Koesnandar pantomime di seputar TIM 
Pagi 21 Mei, dalam perjalanan menuju kampus saya terhenti dan menumpang menonton televisi disebuah rumah di kawasan Cempaka Putih, masyarakat sekitar mendengarkan dengan tegang dan kemudian bersorak ketika Suharto dalam pidatonya memutuskan untuk berhenti sebagai presiden. Bengong….

Sesampainya di kampus IKJ telah tampak Jockie Surjoprajogo dan Oppie Andaresta ngobrol memandang panggung. Foto legendaris seorang mahasiswi yang pingsan dijalanan menjadi backdrop acara kami. Bagaimana menarik penonton untuk datang ke acara sederhana kami sedangkan seluruh Indonesia sedang merayakan jatuhnya Suharto?


Dik Doang
Akhirnya lewat kawan-kawan yang berada di gedung DPR kami mengajak para mahasiswa untuk sejenak melupakan ketegangan dan merayakan kemenangan mereka dengan menonton musik.

Acara dimulai jam 13:00 oleh happening art Musikrodit dari Fahmi Alatas. Epy Koesnandar tanpa kenal lelah melakukan performance art pantomime di kawasan TIM dan kampus IKJ untuk menarik penonton. Oppie dan Jockie pun dengan senang hati ikutan jamming. Acara berjalan kocak dengan dipandu oleh Jimi Multhazam dan Ricky Malau duo MC langganan event-event IKJ.

Sebuah kejutan paling hebat adalah tiba-tiba rombongan Slank datang dan bersedia untuk manggung tanpa dibayar. Slank rupanya ingin menjadi bagian dari peristiwa bersejarah ini dan berbagi rasa lewat musik.


Plastik on stage
Naif, Rumahsakit, Dik Doang, Plastik dan beberapa band IKJ mengajak penonton yang sebagian besar adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi merayakan kelahiran suatu era: REFORMASI. 

Ipangk yang tampil bersama Plastik berkesampatan juga untuk jamming bersama Jockie dan Oppie rekan lamanya di Potlot.

Fahmi Alatas - Oppie - Ipank
Ada insiden kecil antara Jimi dan Bimbim yang agak tersinggung dengan bacot Jimi, sudah menjadi tradisi musik IKJ bahwa siapa pun band yang tampil pasti tidak akan luput dari cercaan MC.
Slank membawakan enam lagu dan membuat seluruh panitia menjadi sekuriti dadakan karena massa Slanker dari Kali Pasir dan sekitarnya datang dan memaksa ikut naik panggung ditengah situasi kampus yang telah penuh dengan penonton mahasiswa.

Tidak kalah dari mantan bandnya, Welly vokalis No Limits menutup acara konser Ekspresi Pita Hitam dengan indah. Sekitar 7-8 lagu dibawakan dengan atraktif oleh No Limits yang sebagian diambil dari album baru mereka.


Acara Ekspresi Pita Hitam adalah sebuah konser musik yang sangat berarti bagi saya dan kawan-kawan pelaksana. Saya tidak bisa mengaku-aku berdemo menghadapi polisi dan tentara, atau ikut mendobrak pagar gedung DPR. Biarlah itu menjadi bagian pengalaman kawan-kawan mahasiswa yang berdarah-darah berjuang demi keruntuhan Orde Baru. Saya hanya bisa menjawab bahwa saya dan kawan-kawan adalah penyelenggara konser musik pertama di era Reformasi ini.

Salut dan maaf untuk kawan-kawan panitia lainnya yang nama-namanya tidak tercantum di tulisan ini. Silakan absen di bagian komentar :)


foto: koleksi Ignas Dwiadi

kra\m/at, Juni 2014

Friday, 14 February 2014

DARK ENLIGHTMENT: DJIWO - Cakra Bhirawa

Kartel Store: http://bit.ly/1gCU0Uv
Sejak Djiwo Ratriarkha memutuskan untuk mengerjakan proyek musik diluar Makam, saya selalu bertanya-tanya akan seperti apakah bunyi musiknya. Hingga muncul sebuah kompilasi gelap dari sectie Surakarta berjudul Kompilasi Badjoe Barat yang berisi lagu-lagu dari Santet, Brhobosan, Obar Setan, Morry, Kalabintalu dan tentunya Djiwo.

Track 1 Djiwo - Cakra Bhirawa, sulit mendeskripsikan bentuk musiknya seperti apa atau mencari-cari unsur apa yang ada didalam komposisi ini. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya langsung ke Djiwo dan berikut ini adalah copas jawaban dari yang bersangkutan. Silakan...


_________________________________________________

Djiwo - Cakra Bhirawa 6:51
Niat awal kami sebenarnya dipicu oleh keinginan untuk menulis sebuah komposisi lagu yang mampu atau minimal cukup diyakini efektif sebagai sarana untuk ”beribadah” .
Dan materi ayat yang kami pilih adalah Mantra Rajah Kalacakra... Materi lirik pada lagu ini sebenarnya bukan kita yang menuliskannya, tetapi di sini kita hanya mencoba menyematkannya dari duplikat naskah aslinya dan membuatnya abadi di dalam lagu.
Cakra dalam epos pewayangan jawa dapat dikenali sebagai senjata pamungkas yang sakti, Cakra yang digambarkan menyerupai roda juga dikenal sebagai roda dharma atau kebijaksanaan di beberapa keyakinan masyarakat adat. Sementara arti kata Bhirawa, lebih kami maknai sebagai teknis pelafalan dari pengucapan Bhairawa, yang berarti dahsyat atau hebat.
Keyakinan dalam kultur adat kami mantra ini dipercayai sebagai penolak sial, oleh para generasi setelah invasi budaya arab masuk dan pada masa keruntuhan majapahit. 
Di Tibet juga mengenal kata Kalacakra isi dari mantranya memakai 10-seed syllable yang disebut sbg 10 Bijjakshara, sementara mantra kalacakra di jawa, mempunyai silabel berjumlah 32, yakni ...

YAMARAJA……….JARAMAYA siapa yang menyerang, berbalik menjadi berbelas kasihan YAMARANI………..NIRAMAYA siapa datang bermaksud buruk, akan tersingkir YASILAPA…………PALASIYA siapa membuat lapar dia-lah nantinya yang akan memberi makan YAMIRODA……….DAROMIYA siapa memaksa dia-lah yang akan menjadi memberi kebebasan YAMIDOSA……….SADOMIYA siapa membuat dosa, berbalik membuat jasa YADAYUDA………..DAYUDAYA siapa memerangi berbalik menjadi damai YASIYACA……….CAYASIYA siapa membuat celaka berbalik menjadi membuat sehat dan sejahtera YASIHAMA……….MAHASIYA siapa membuat rusak berbalik menjadi membangun dan sayang.

Namun meskipun demikian, semua uraian dan makna aslinya yg bermuatan positif di atas tentunya tidak bermakna sama sekali jika disematlkan begitu saja dalam konteks gubahan sebuah lagu pembebasan berhaluan black metal dan oleh kesadaran tersebut serta merunut kepada pemaknaan ulang yang juga biasa kami lakukan, maka kami sengaja mengubah susunan bait dan ayat di dalamnya. Dan tentu saja ini mengubah arti, makna, tujuan dan dampak kinetis yang berbeda pula secara spiritual. 
Dan inilah Cakra Bhirawa kami, sebuah kisaran hisap energi kehidupan yang terus berputar, meretas ruang dan waktu ... Sadarkah Anda saat ini bahwa kehidupan yang sedang Anda jalani ini berada di dalam pengaruhnya?
Djiwo Ratriarkha @2013
______________________________________________

Sebelum mendapatkan info dari Djiwo, Saya dan Haris ngotot untuk mengutak-atik footage tidak terpakai kami, dan mulai menyusun montase video dengan latar musik Cakra Bhirawa. Kami kemudian meminta Djiwo dan Eep La Guera (gitar) untuk membuat beberapa adegan dan mengirimkan pada kami. Jadilah video musik Cakra Bhirawa. Video ini juga dibantu oleh Usman personil Kalabintalu.


Djiwo berencana untuk merilis album mereka di 2014. Kami tunggu.

Friday, 15 November 2013

BLACK ODYSSEY part 7: The Ritual

Satu lagi rencana penting di kota Solo adalah meliput upacara kirab Satu Suro. Tim riset berbagi lokasi yaitu Yuka berangkat ke Yogyakarta dan saya tetap di Solo. Saya berkoordinasi dengan Djiwo yang juga sebagai abdi di kalangan keraton Solo. Dari informasi Djiwo kirab tahun ini belum pasti diadakan karena situasi konflik di keluarga Keraton Solo. Djiwo sendiri tidak mengetahui pasti apakan dirinya akan dipanggil untuk bertugas di kirab tersebut.


Malam Satu Suro, pemberitaan mengabarkan bahwa kirab jadi dilaksanakan tetapi dengan absennya PB XIII. Djiwo datang ke kantor The Think dan kami berbincang dengan Gede, Rio dan kawan-kawan The Think. Topik menarik adalah Djiwo yang tergabung dalam komunitas pisau, sebuah forum yang membahas senjata tajam secara mendalam. Djiwo tetap membawa budaya keris ke komunitas yang didominasi dengan pembahasan teknik dan metalurgi barat dalam membuat pisau. Keris selalu dikenal sebagai benda bertuah, keramat yang akhirnya hanya menonjolkan sisi klenik ke masyarakat dan melupakan sisi teknik pembuatan secara detil. Sisi teknis itu yang dicoba dijelaskan oleh Djiwo.

Dekat tengah malam kami berjalan kaki menuju gerbang keraton Surakarta, titik yang ideal untuk merekam prosesi kirab. Sepanjang jalan Djiwo menjadi pemandu dan menceritakan banyak hal tentang prosesi tersebut. Tidak berapa lama kirab pun dimulai, saya akhirnya mendapatkan gambar yang berhubungan dengan dokumenter Javanese Black Metal. Footage yang terkumpul lumayan untuk mencicil produksi sambil mencari dana.

Perjalanan Surabaya-Sidoarjo-Kediri-Solo, saya menemukan hal yang menarik dari pertemuan dengan pelaku Javanese Black Metal. Lokasi dimana mereka tinggal menjadi cirri tersendiri untuk mencari Jawa. Di Surabaya metropolitan, Jawa yang tersisa adalah kisah dan tuturan orang tua. Di Sidoarjo dan Kediri sebagai turunan dari kerajaan yang besar, cara pencarian Jawa adalah menggalinya secara spiritual dan menjelajahi situs yang banyak tersebar. Solo sebagai sebuah kerajaan, masih mempunyai literatur yang cukup akan informasi Jawa.


Para musisi ini adalah generasi muda yang mengunjungi, mempelajari, merawat dan menjaga situs-situs peninggalan budaya. Mereka bukan orang yang didanai oleh sebuah badan arkeologi bahkan bukan oleh Departemen Pendidikan Nasional bahkan Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ini adalah sebuah kesadaran local dengan misi global: JAVANESE METAL.


BLACK ODYSSEY Part 6: Rock In Solo 2013 Hari-2

Pagi hari di lapangan Kota Barat saya berkeliling di luar venue, merekam suasana para metalhead dari luar kota Solo yang telah bersiap. Sebelumnya Haris editor The Anarcho Brothers yang berhalangan hadir minta dibelikan topi atau kaos black metal local. Di sekitar lapangan lapak-lapak kaos dan aksesoris metal banyak bertebaran. Saya akhirnya membeli kaos Sengkologeni dan Innalillahi. Entah itu kaos original atau bajakan.

Di dalam venue saya bertemu dengan Pak Bambang, metalhead setia Rock In Solo sejak konser Dying Fetus pada 2010. Pak Bambang sehari-harinya adalah juru parkir di sekitar Solo Baru dan menjadi salah satu tokoh dalam proyek dokumenter RIS 2013 oleh Bani Nasution.

Hari ke-dua berjalan seperti biasa, merekam dan merekam. Saya berkesempatan mengambil gambar di backstage ketika Djiwo bersiap sebagai penampil pertama. Sibuk dengan pernak-pernik dan perlengkapan sebuah band Javanese Black Metal, Djiwo tampak serius jarang menyapa orang-orang sekitarnya. Gede juga banyak mengambil foto-foto proses persiapan Djiwo. Memang itulah Djiwo, backstage adalah semacam tempat transformasi dari seorang yang sehari-harinya sangat akademik dan lucu menjadi sosok monster di atas panggung.

Djiwo membuka hari ke-dua RIS 2013 dengan tiga lagu, diantaranya Cakra Birawa. Sebuah lagu dari lirik mantra tantra kalacakra versi Jawa yang mempunyai arti sangat dalam. Saya dan Yuka berniat membuat sebuah peluncuran online dengan tulisan dan klip dari lagu ini. Walau penampilan Djiwo hanya disaksikan dari dekat oleh segelintir metalhead, tapi aura black metal sangat kuat di atas panggung. Hari ke-dua dibuka oleh band Javanese Black Metal sebagai tuan rumah untuk menyambut Polish Black Metal, Behemoth.

Rock In Solo memang menyediakan tempat untuk band-band dari berbagai genre rock, terlihat dari penampilan The Working Class Symphony yang membawakan folk, punk dan sedikit country rock. Ada juga The Corals, band Bekasi yang beraroma stoner, rock n’roll, dan Navicula dari Bali yang mantap dengan grunge.

Hari ke-dua ini saya lebih banyak berkeliling dan bertemu kawan-kawan baru di lingkaran musik ini. Saya bertemu lagi dengan Doni bersama kontingen Kediri dan kawan-kawan Real Militia Surabay. Sambil menyempatkan diri menyantap nasi kotak dari booth milik band black metal Solo, Bandoso. Nasi Paradox, demikian nama booth yang diambil dari album mereka Semesta Paradoks. Tampak Nonot sang bassist menjadi penjaga booth dan kasir, sementara frontman Pintus sibuk menggoreng tahu tempe.

Deadly Weapon, Ilemauzar (Singapura) dan Inlander, menghentak walaupun ditengah hujan. Hari ke-dua terlihat jumlah penonton jauh lebih banyak, kontingen luar kota yang ingin menonton Behemoth banyak yang baru berdatangan. Psychonaut (Australia) menutup siang dengan cadasnya thrash metal.

Shift malam makin beringas dengan ((Auman)) yang berlirik kritis, disusul Outright dan Navicula. Noxa berhasil membuat metalhead menjadi bagian dari tontonan yang menarik. Sayangnya ditengah konser Noxa, manajemen dari Behemoth meminta untuk memajukan waktu perform mereka. Noxa akhirnya hanya memainkan lima lagu namun  cukup menguras energi metalhead malam itu. Tarik napas dulu untuk Behemoth…

Negosiasi kawan-kawan The Think Organizer dengan Behemoth berbuah akses bagi saya dan Anggula Brintik untuk mengambil gambar di dalam barikade dan dari atas panggung. Gede sebagai fotografer panggung senior juga mendapatkan akses yang sama. Behemoth juga meminta hasil rekaman dari kami untuk menjadi dokumentasi mereka. Sama halnya ketika saya merekam Death Angel 2011, ketika mereka tengah mengerjakan thrashumentary karya Tommy Jones, sebagian footage kami menjadi bagian dari dokumenter tersebut.

Selagi menunggu Behemoth keluar dari balik panggung, saya memperhatikah beberapa buah hio dengan aroma cendana dipasang pada speaker monitor, sementara backdrop bergambar demit Baphomet tampak arogan menatap penonton. Nergal muncul dengan jubah berkalung belasan ceker ayam, entah kenapa pikiran saya langsung nyambung ke gudeg Margoyudan. Dari balik lcd kamera saya hanya bisa berkomentar bahwa Behemoth sungguh menyajikan sebuah pertunjukan black metal yang total. Detil wajah keempat orang Polandia ini selalu serius dan mengerikan sejak awal hingga akhir. Tidak ada basa-basi di jedah lagu. Yeah, itulah Behemoth, band black metal terbesar saat ini.

Saat seluruh acara selesai, saya merasa terhormat menjadi bagian dari konser ini. Saya menjadi bagian dari segala kesulitan dan kerja keras yang dialami kawan-kawan Solo dalam menyelenggarakan Rock In Solo. Masalah apakah konser ini untung atau rugi tidak lagi penting. Yang jelas harus ada orang-orang yang menyelamatkan dan menjaga scene ini, seperti kawan-kawan dai Solo ini. Semoga tahun depan masih ada tempat untuk saya membantu mereka. Hanya Baphomet yang tahu…

Sampai jumpa di Rock In Solo 2014 \m/

Link Highlight Rock In Solo 2013: