Friday, 14 February 2014

DARK ENLIGHTMENT: DJIWO - Cakra Bhirawa

Kartel Store: http://bit.ly/1gCU0Uv
Sejak Djiwo Ratriarkha memutuskan untuk mengerjakan proyek musik diluar Makam, saya selalu bertanya-tanya akan seperti apakah bunyi musiknya. Hingga muncul sebuah kompilasi gelap dari sectie Surakarta berjudul Kompilasi Badjoe Barat yang berisi lagu-lagu dari Santet, Brhobosan, Obar Setan, Morry, Kalabintalu dan tentunya Djiwo.

Track 1 Djiwo - Cakra Bhirawa, sulit mendeskripsikan bentuk musiknya seperti apa atau mencari-cari unsur apa yang ada didalam komposisi ini. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya langsung ke Djiwo dan berikut ini adalah copas jawaban dari yang bersangkutan. Silakan...


_________________________________________________

Djiwo - Cakra Bhirawa 6:51
Niat awal kami sebenarnya dipicu oleh keinginan untuk menulis sebuah komposisi lagu yang mampu atau minimal cukup diyakini efektif sebagai sarana untuk ”beribadah” .
Dan materi ayat yang kami pilih adalah Mantra Rajah Kalacakra... Materi lirik pada lagu ini sebenarnya bukan kita yang menuliskannya, tetapi di sini kita hanya mencoba menyematkannya dari duplikat naskah aslinya dan membuatnya abadi di dalam lagu.
Cakra dalam epos pewayangan jawa dapat dikenali sebagai senjata pamungkas yang sakti, Cakra yang digambarkan menyerupai roda juga dikenal sebagai roda dharma atau kebijaksanaan di beberapa keyakinan masyarakat adat. Sementara arti kata Bhirawa, lebih kami maknai sebagai teknis pelafalan dari pengucapan Bhairawa, yang berarti dahsyat atau hebat.
Keyakinan dalam kultur adat kami mantra ini dipercayai sebagai penolak sial, oleh para generasi setelah invasi budaya arab masuk dan pada masa keruntuhan majapahit. 
Di Tibet juga mengenal kata Kalacakra isi dari mantranya memakai 10-seed syllable yang disebut sbg 10 Bijjakshara, sementara mantra kalacakra di jawa, mempunyai silabel berjumlah 32, yakni ...

YAMARAJA……….JARAMAYA siapa yang menyerang, berbalik menjadi berbelas kasihan YAMARANI………..NIRAMAYA siapa datang bermaksud buruk, akan tersingkir YASILAPA…………PALASIYA siapa membuat lapar dia-lah nantinya yang akan memberi makan YAMIRODA……….DAROMIYA siapa memaksa dia-lah yang akan menjadi memberi kebebasan YAMIDOSA……….SADOMIYA siapa membuat dosa, berbalik membuat jasa YADAYUDA………..DAYUDAYA siapa memerangi berbalik menjadi damai YASIYACA……….CAYASIYA siapa membuat celaka berbalik menjadi membuat sehat dan sejahtera YASIHAMA……….MAHASIYA siapa membuat rusak berbalik menjadi membangun dan sayang.

Namun meskipun demikian, semua uraian dan makna aslinya yg bermuatan positif di atas tentunya tidak bermakna sama sekali jika disematlkan begitu saja dalam konteks gubahan sebuah lagu pembebasan berhaluan black metal dan oleh kesadaran tersebut serta merunut kepada pemaknaan ulang yang juga biasa kami lakukan, maka kami sengaja mengubah susunan bait dan ayat di dalamnya. Dan tentu saja ini mengubah arti, makna, tujuan dan dampak kinetis yang berbeda pula secara spiritual. 
Dan inilah Cakra Bhirawa kami, sebuah kisaran hisap energi kehidupan yang terus berputar, meretas ruang dan waktu ... Sadarkah Anda saat ini bahwa kehidupan yang sedang Anda jalani ini berada di dalam pengaruhnya?
Djiwo Ratriarkha @2013
______________________________________________

Sebelum mendapatkan info dari Djiwo, Saya dan Haris ngotot untuk mengutak-atik footage tidak terpakai kami, dan mulai menyusun montase video dengan latar musik Cakra Bhirawa. Kami kemudian meminta Djiwo dan Eep La Guera (gitar) untuk membuat beberapa adegan dan mengirimkan pada kami. Jadilah video musik Cakra Bhirawa. Video ini juga dibantu oleh Usman personil Kalabintalu.


Djiwo berencana untuk merilis album mereka di 2014. Kami tunggu.

Friday, 15 November 2013

BLACK ODYSSEY part 7: The Ritual

Satu lagi rencana penting di kota Solo adalah meliput upacara kirab Satu Suro. Tim riset berbagi lokasi yaitu Yuka berangkat ke Yogyakarta dan saya tetap di Solo. Saya berkoordinasi dengan Djiwo yang juga sebagai abdi di kalangan keraton Solo. Dari informasi Djiwo kirab tahun ini belum pasti diadakan karena situasi konflik di keluarga Keraton Solo. Djiwo sendiri tidak mengetahui pasti apakan dirinya akan dipanggil untuk bertugas di kirab tersebut.


Malam Satu Suro, pemberitaan mengabarkan bahwa kirab jadi dilaksanakan tetapi dengan absennya PB XIII. Djiwo datang ke kantor The Think dan kami berbincang dengan Gede, Rio dan kawan-kawan The Think. Topik menarik adalah Djiwo yang tergabung dalam komunitas pisau, sebuah forum yang membahas senjata tajam secara mendalam. Djiwo tetap membawa budaya keris ke komunitas yang didominasi dengan pembahasan teknik dan metalurgi barat dalam membuat pisau. Keris selalu dikenal sebagai benda bertuah, keramat yang akhirnya hanya menonjolkan sisi klenik ke masyarakat dan melupakan sisi teknik pembuatan secara detil. Sisi teknis itu yang dicoba dijelaskan oleh Djiwo.

Dekat tengah malam kami berjalan kaki menuju gerbang keraton Surakarta, titik yang ideal untuk merekam prosesi kirab. Sepanjang jalan Djiwo menjadi pemandu dan menceritakan banyak hal tentang prosesi tersebut. Tidak berapa lama kirab pun dimulai, saya akhirnya mendapatkan gambar yang berhubungan dengan dokumenter Javanese Black Metal. Footage yang terkumpul lumayan untuk mencicil produksi sambil mencari dana.

Perjalanan Surabaya-Sidoarjo-Kediri-Solo, saya menemukan hal yang menarik dari pertemuan dengan pelaku Javanese Black Metal. Lokasi dimana mereka tinggal menjadi cirri tersendiri untuk mencari Jawa. Di Surabaya metropolitan, Jawa yang tersisa adalah kisah dan tuturan orang tua. Di Sidoarjo dan Kediri sebagai turunan dari kerajaan yang besar, cara pencarian Jawa adalah menggalinya secara spiritual dan menjelajahi situs yang banyak tersebar. Solo sebagai sebuah kerajaan, masih mempunyai literatur yang cukup akan informasi Jawa.


Para musisi ini adalah generasi muda yang mengunjungi, mempelajari, merawat dan menjaga situs-situs peninggalan budaya. Mereka bukan orang yang didanai oleh sebuah badan arkeologi bahkan bukan oleh Departemen Pendidikan Nasional bahkan Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ini adalah sebuah kesadaran local dengan misi global: JAVANESE METAL.


BLACK ODYSSEY Part 6: Rock In Solo 2013 Hari-2

Pagi hari di lapangan Kota Barat saya berkeliling di luar venue, merekam suasana para metalhead dari luar kota Solo yang telah bersiap. Sebelumnya Haris editor The Anarcho Brothers yang berhalangan hadir minta dibelikan topi atau kaos black metal local. Di sekitar lapangan lapak-lapak kaos dan aksesoris metal banyak bertebaran. Saya akhirnya membeli kaos Sengkologeni dan Innalillahi. Entah itu kaos original atau bajakan.

Di dalam venue saya bertemu dengan Pak Bambang, metalhead setia Rock In Solo sejak konser Dying Fetus pada 2010. Pak Bambang sehari-harinya adalah juru parkir di sekitar Solo Baru dan menjadi salah satu tokoh dalam proyek dokumenter RIS 2013 oleh Bani Nasution.

Hari ke-dua berjalan seperti biasa, merekam dan merekam. Saya berkesempatan mengambil gambar di backstage ketika Djiwo bersiap sebagai penampil pertama. Sibuk dengan pernak-pernik dan perlengkapan sebuah band Javanese Black Metal, Djiwo tampak serius jarang menyapa orang-orang sekitarnya. Gede juga banyak mengambil foto-foto proses persiapan Djiwo. Memang itulah Djiwo, backstage adalah semacam tempat transformasi dari seorang yang sehari-harinya sangat akademik dan lucu menjadi sosok monster di atas panggung.

Djiwo membuka hari ke-dua RIS 2013 dengan tiga lagu, diantaranya Cakra Birawa. Sebuah lagu dari lirik mantra tantra kalacakra versi Jawa yang mempunyai arti sangat dalam. Saya dan Yuka berniat membuat sebuah peluncuran online dengan tulisan dan klip dari lagu ini. Walau penampilan Djiwo hanya disaksikan dari dekat oleh segelintir metalhead, tapi aura black metal sangat kuat di atas panggung. Hari ke-dua dibuka oleh band Javanese Black Metal sebagai tuan rumah untuk menyambut Polish Black Metal, Behemoth.

Rock In Solo memang menyediakan tempat untuk band-band dari berbagai genre rock, terlihat dari penampilan The Working Class Symphony yang membawakan folk, punk dan sedikit country rock. Ada juga The Corals, band Bekasi yang beraroma stoner, rock n’roll, dan Navicula dari Bali yang mantap dengan grunge.

Hari ke-dua ini saya lebih banyak berkeliling dan bertemu kawan-kawan baru di lingkaran musik ini. Saya bertemu lagi dengan Doni bersama kontingen Kediri dan kawan-kawan Real Militia Surabay. Sambil menyempatkan diri menyantap nasi kotak dari booth milik band black metal Solo, Bandoso. Nasi Paradox, demikian nama booth yang diambil dari album mereka Semesta Paradoks. Tampak Nonot sang bassist menjadi penjaga booth dan kasir, sementara frontman Pintus sibuk menggoreng tahu tempe.

Deadly Weapon, Ilemauzar (Singapura) dan Inlander, menghentak walaupun ditengah hujan. Hari ke-dua terlihat jumlah penonton jauh lebih banyak, kontingen luar kota yang ingin menonton Behemoth banyak yang baru berdatangan. Psychonaut (Australia) menutup siang dengan cadasnya thrash metal.

Shift malam makin beringas dengan ((Auman)) yang berlirik kritis, disusul Outright dan Navicula. Noxa berhasil membuat metalhead menjadi bagian dari tontonan yang menarik. Sayangnya ditengah konser Noxa, manajemen dari Behemoth meminta untuk memajukan waktu perform mereka. Noxa akhirnya hanya memainkan lima lagu namun  cukup menguras energi metalhead malam itu. Tarik napas dulu untuk Behemoth…

Negosiasi kawan-kawan The Think Organizer dengan Behemoth berbuah akses bagi saya dan Anggula Brintik untuk mengambil gambar di dalam barikade dan dari atas panggung. Gede sebagai fotografer panggung senior juga mendapatkan akses yang sama. Behemoth juga meminta hasil rekaman dari kami untuk menjadi dokumentasi mereka. Sama halnya ketika saya merekam Death Angel 2011, ketika mereka tengah mengerjakan thrashumentary karya Tommy Jones, sebagian footage kami menjadi bagian dari dokumenter tersebut.

Selagi menunggu Behemoth keluar dari balik panggung, saya memperhatikah beberapa buah hio dengan aroma cendana dipasang pada speaker monitor, sementara backdrop bergambar demit Baphomet tampak arogan menatap penonton. Nergal muncul dengan jubah berkalung belasan ceker ayam, entah kenapa pikiran saya langsung nyambung ke gudeg Margoyudan. Dari balik lcd kamera saya hanya bisa berkomentar bahwa Behemoth sungguh menyajikan sebuah pertunjukan black metal yang total. Detil wajah keempat orang Polandia ini selalu serius dan mengerikan sejak awal hingga akhir. Tidak ada basa-basi di jedah lagu. Yeah, itulah Behemoth, band black metal terbesar saat ini.

Saat seluruh acara selesai, saya merasa terhormat menjadi bagian dari konser ini. Saya menjadi bagian dari segala kesulitan dan kerja keras yang dialami kawan-kawan Solo dalam menyelenggarakan Rock In Solo. Masalah apakah konser ini untung atau rugi tidak lagi penting. Yang jelas harus ada orang-orang yang menyelamatkan dan menjaga scene ini, seperti kawan-kawan dai Solo ini. Semoga tahun depan masih ada tempat untuk saya membantu mereka. Hanya Baphomet yang tahu…

Sampai jumpa di Rock In Solo 2014 \m/

Link Highlight Rock In Solo 2013: