Sunday, 17 January 2016

FILM-FILM THE ANARCHO BROTHERS DI BUTTON IJO

Awal tahun 2016 ini The Anarcho Brothers bekerja sama dengan Button Ijo untuk mendistribusikan film-film mereka. Dokumenter Rock In Solo 2012 "The Return" (Kamerad Edmond& Haris Kartasumitra) dan dokumenter/eksperimental Djiwo's Pamurba Yatmaka Cakra Bhirawa (Kamerad Edmond) kini bisa diperoleh melalui produk unik USB Sinema prakarsa depot film Button Ijo.

The Anarcho Brothers memilih USB Sinema karena dianggap tepat untuk film mereka. Film dokumenter musik masih kurang peminatnya secara retail/individual dibanding produk musik itu sendiri, CD, kaset atau digital. USB Sinema memungkinkan sebuah film untuk ditonton melalui screening bersama, nonton bareng dimana komunitas musik berkumpul dan lebih jauhnya membuka sebuah diskusi, sehingga jangkauan pemirsa bisa semakin luas dan pembahasan film itu sendiri makin terbuka.

ROCK IN SOLO 2012 "THE RETURN"
Melihat konten film ini, "The Return" bisa dibilang adalah sebuah review panjang tentang event Rock In Solo 2012. Kamerad Edmond, Haris Kartasumitra dan Yuka Dian Narendra berkomentar tentang pandangan mereka terhadap event ini. Dokumenter ini berisi cuplikan peristiwa dibalik dan selama event ini digelar, dengan penampilan diantaranya Bandoso, Dreamer, Makam, Jasad, Belligerent Intent dan tentunya aksi Cannibal Corpse.

DJIWO'S PAMURBA YATMAKA CAKRA BHIRAWA
Video dokumenter/eksperimental intinya berisi narasi statement dari Shiva Ratriarkha sang vokalis band Nusantara Black Metal Djiwo tentang pemikirannya pada album Cakra Bhirawa. Berisi visual hitam-putih yang kental dengan aura magis-kelam dan di sisi lainnya menawarkan pencerahan spiritual.

Lebih jauh tentang USB Sinema:
http://buttonijo.com/pages/support-1

Bekasi, Januari 2016

Tuesday, 28 July 2015

PAMURBA YATMAKA CAKRA BHIRAWA


Tidak lama setelah Cakra Bhirawa dirilis awal 2014, Shiva Ratriarkha sang pelantun mantra membuat narasi yang menjelaskan maksud dari tiap lagu di album tersebut. Saya sendiri sangat terbantu dengan rekaman narasi ini, lagu Djiwo yang berisi pekik mistis dan riff hipnotis Fancy Burn kini makin bermakna.Maka saya memutuskan untuk merespon narasi ini dengan visual.

Seperti biasa sejak pembuatan video musik Cakra Bhirawa saya dan pihak band tidak pernah bertemu. Hanya terjadi diskusi panjang di jendela whatsapp dan seakan ada kinetis rupa yang menghubungkan ide. Pamurba Yatmaka dimulai dengan mendengar narasi sambil membongkar footage-footage dalam harddisk dan menyusunnya. Proses ini terasa seperti membentuk komposisi baru untuk sebuah album musik dibanding keadaan emosi dalam membuat film.
DJIWO: Fancy Burn & Shiva Ratriarkha.  photo by: I Gede Adhiputra

ADAM, artwork by: Usman Kalabintalu Blakk Art. photo by: I Gede Adhiputra

Pamurba Yatmaka adalah sebuah proses memaknai sebuah lagu dengan gambar-gambar yang sebagian besar tidak ada kaitannya dengan narasi. Pejelasan harfiah dimunculkan dengan karya-karya goresan jahat Usman Kalabintalu yang membuat artwork dari album ini. Narasi Usman tentang gambarnya menjadi pembuka tayang.

Diujung produksi Shiva memberikan mantra rajah kalacakra lengkap dengan gerakan yang semakin memperkuat posisi Djiwo sebagai band Nusantara Black Metal. Gerakan semacam ini juga dilakukan Shiva ketika rekaman vokal pada track Ardum yang berarti gerak/tarian. Mantra tersebut disematkan pada tiap segmen video dan secara ritual menjadi senjata penolak bala. Bagi orang yang mengerti bahasa Jawa ada beberap kalimat mantra yang terdengar menggelikan. Tetapi itulah mantra lengkap kalacakra yang ditemukan Shiva dari berbagai literatur kuno.

DJIWO monogram. design by Shiva Ratriarkha


Video ini diproduksi sebagai alternatif produk video-musik selain video klip, dokumenter biografi, video konser atau dokumentasi proses rekaman. Untuk black metal sebagai genre yang berideologi setidaknya butuh sebuah media untuk menerjemahkan misi yang kadang tidak cukup dengan menyimak lirik.

Kamerad Edmond
Cikini 73, 28 Juli 2015

links:
Djiwo @ tumblr  : http://fuckyeahdjiwo.tumblr.com/
Beli album Djiwo - Cakra Bhirawa :  https://itunes.apple.com/id/album/cakra-bhirawa/id944046151
Video musik Cakra Bhirawa :  https://www.youtube.com/watch?v=cpCvblDpNnY
Album @ Hitam Kelam Store :  http://hitamkelamstore.blogspot.com/2014/12/djiwo-cakra-bhirawa.html

Monday, 27 April 2015

METAL, PANTAI DAN KOTA MANADO - Catatan pulang kampung



Mercusuar di tengah kota manado.
Medio Mei 2015 saya dan beberapa kru The Anarcho Brothers mendapatkan peluang untuk ke Manado. Bagi saya merupakan perjalanan pulang kampung sedangkan bagi Haris (editor) dan Nanda (script) adalah perjalanan membuktikan urban legend tentang wanita-wanita cantik Manado.


SCENE IN PROGRESS
Ditengah kesibukan kami mencari sempatan bersua dengan gerombolan hitam kota, scene metal Manado, North Celebes Infantry Batallions. Sebuah kehormatan kami diundang untuk ngopi-ngopi bersama. Gelora metal di Manado menarik karena saya bisa melihat proses bertumbuhnya sebuah scene dengan akar kampus dan warung kopi. Band Durhaka adalah salah satu pelopor The Second Wave musik Metal di Manado. Sebelumnya scene metal gelombang pertama sekitar tahun 80an dengan nama-nama seperti Mekathana, Red Bifi, Justisia dan D'Bosco hingga awal 90an meredup.


Scene metal Manado dengan genre black metal yang menonjol adalah fenomena di sebuah kota dengan kadar sayap kanan yang tinggi. Diantara stereotipe anak muda Manado yang trendi dan wangi ditambah dengan tingkat religius masyarakat yang tinggi, gerombolan ini menjadi simbol penyadaran sosial bahwa setiap kota punya sisi gelap. Masyarakat Manado selalu merasa nyaman dengan kotanya hingga kerap melupakan masalah-masalah diantara mereka. Saya sendiri sangat berharap kepada scene ini untuk menjadi suara kritis bagi kota dan masyarakat. Saatnya Manado mempunyai suara lantang untuk menyadarkan bahwa banyak cacat sosial yang terabaikan seiring dengan ibadah minggu.




Ngopi-ngobrol dengan kawan-kawan NCIB berlangsung di sebuah warung kopi Kitawaya di seberang bioskop tua art deco yang sekarang kosong. Pemiliknya adalah tokoh rohani yang giat melakukan diskusi gospel di tempat itu. Momen paling menarik adalah disaat kami dengan khusyuk berbincang tentang black metal, kidung pujian dinyanyikan oleh para pemuda gereja di meja sebelah. 
Indahnya perbedaan.

PANTAI MANA PANTAI
Tidak kuasa dengan rengekan Haris dan Nanda akhirnya saya mengantar mereka ke pantai sepanjang Malalayang. Bertahun tidak menjenguk kampung, semuanya sudah berubah. Sepanjang garis pantai Manado sebagian besar telah menjadi milik pribadi dan kemudian direklamasi. Para pengusaha telah membuat resort reklamasi dengan impian menciptakan mini Dubai. Sulit mencari pantai terbuka untuk publik.


Disatu sisi pemerintah kota sedang giat-giat nya mencanangkan Manado kota Cerdas 2020. Mungkin pemkot Manado butuh sekolah lagi untuk menafsirkan kata Cerdas. Kota ini butuh public space dimana masyarakat berbagai kalangan bertemu, dan mulai menyingkirkan manusia partai dan menggantinya dengan profesional yang lebih mengerti tentang tata kota, kesenian dan budaya.
Habit primordial yang telah dirusak kolonial ratusan tahun telah membuat pola pikir masyarakat kota Manado menjadi pecandu kenyamanan. Nyaris mustahil melaksanakan sebuah produksi (film, misalnya) tanpa ngaret. Maka tidak jarang untuk membangun sebuah booth pameran tenaga tukang harus diimpor dari pulau seberang.


Pesan untuk Manado, 'kenyamanan' itu berbahaya.
Pesan untuk NCIB, jadilah 'ketidaknyamanan' untuk kota kami.


I YAYAT U SANTI \m/


Sario, 28 April 2015


Kamerad Edmond

Lahir dan bertumbuh di Manado, dewasa di tanah orang.